Memasuki
musim penghujan ini, penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD) kembali mengganas dimana-mana.
Kecemasan orangtua semakin luar biasa, bila saat
ini anaknya mengalami demam apa pun penyebabnya.
Pikiran pertama yang muncul di kepala adalah
apakah anak saya menderita penyakit berbahaya
itu. Ternyata banyak penyakit lain yang
penampilannya menyerupai DBD. DBD adalah
penyakit infeksi yang demikian ganas. Bila
terlambat ditangani, dalam beberapa hari bahkan
dalam hitungan jam kondisi anak bisa masuk dalam
keadaan kritis.
Adakalanya seorang penderita
DBD terlambat dalam penegakan diagnosis. Saat
hari pertama demam didiagnosis dokter sebagai
infeksi tenggorokan, kemudian hari berikutnya
berubah diagnosisnya menjadi penyakit campak.
Saat hari ke 3, setelah dilakukan pemeriksaan
laboratorium ditambah diagnosis gejala tifus.
Baru saat hari ke 4 dan ke 5 keadaan memburuk
dan meninggal, ternyata diagnosis penyebab
kematiannya adalah DBD.
Masyarakat awam, bahkan
seorang dokter berpengalaman sekaliber
profesorpun kadang sulit mendeteksi lebih awal
diagnosis DBD ini. Gejala DBD amat luas, hampir
semua infeksi akut pada awal penyakitnya
menyerupai DBD. Sehingga saat awal penyakit, DBD
seringkali dikelirukan dengan penyakit laiunnya.
Gejala khas seperti perdarahan pada kulit atau
tanda perdarahan lainnya kadang terjadi hanya di
akhir periode penyakit. Tragisnya bila penyakit
ini terlambat didiagnosis, maka kondisi
penderita sulit diselamatkan. Untuk menghindari
keterlambatan diagnosis DBD, mungkin perlu
diketahui penyakit apa sajakah yang menyerupai
DBD ?
Demam Berdarah Dengue
Virus
dengue penyebab DBD termasuk famili Flaviviridae,
yang berukuran kecil sekali, yaitu 35-45 nm.
Manifestasi klinisnya ditandai gejala-gejala
klinik berupa demam, nyeri pada seluruh tubuh,
ruam dan perdarahan. Demam yang terjadi pada
infeksi ini timbulnya mendadak, tinggi (dapat
mencapai 39-40 derajat Celcius) dan dapat
disertai dengan menggigil. Pada saat anak mulai
panas ini biasanya sudah tidak mau bermain.
Demam ini hanya berlangsung sekitar lima hari.
Pada saat demamnya berakhir, sering kali dalam
bentuk turun mendadak dan disertai dengan
berkeringat banyak. Saat itu anak tampak agak
loyo. Kadang-kadang dikenal istilah demam
biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama
beberapa hari itu sempat turun di tengahnya
menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun
lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas
sebagai punggung unta).
Kadang-kadang ruam tersebut
hanya timbul pada daerah tangan atau kaki saja
sehingga memberi bentuk spesifik seperti kaos
tangan dan kaki. Manifestasi klinis lainya
adalah sakit kepala, nyeri perut, mual, muntah,
kadang disertai diare atau sulit BAB. Gejala
lain yang menyertai adalah perfarahan di kulit,
hidung atau saluran cerna.
PENYAKIT YANG MENYERUPAI
Melihat banyaknya tanda dan
gejala klinis yang ditimbulkan DBD seringkali
terjadi kekeliruan diagnosis pada awalnya. Pada
awal penyakit, infeksi DBD menyerupai berbagai
penyakit bakteri, virus atau infeksi prozoa.
Penyakit tersebut meliputi demam tifoid, campak,
influenza, infeksi tenggorokan (faringitis),
demam cikungunya, leptospiros, malaria atau
kelaianan darah. Bahkan beberapa kasus DBD
sering dikelirukan dengan infeksi usus buntu.
Demam Tifus
Demam tifus adalah penyakit
yang sering dikelirukan dengan DBD. Seringkali seseorang
didiagnosis DBD bersamaan dengan penyakit tifus.
Penyebab “pitfall” atau kekeliruan tersebut
adalah kerancuan dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan
Widal atau uji laboratorium untuk mendiagnosis
demam tifus. Ternyata seringkali pada penderita
hasil pemeriksaan widal juga meningkat, padahal
belum tentu mengalami infeksi tifus. Pemeriksaan
widal adalah mendeteksi antibodi atau kekebalan
tubuh terhadap tifus, bukan mendeteksi adanya
kuman atau berat ringannya penyakit tifus. Pada
penyakit tifus pemeriksaan widal biasanya
meningkat saat minggu ke dua. Bila saat minggu
pertama hasil pemeriksaan widal tinggi maka
mungkin harus dicurigai adanya “false positif”,
atau kesalahanhasil positif yang diakibatkan
faktor lain. Ternyata pada pada beberapa
penelitian pendahuluan ddidapatkan beberapa
penyakit infeksi virus atau infeksi DBD, dapat
meningkatkan reaksi tes widal. Manifestasi ini
sering terjadi pada penderita hipersensitif atau
penderita yang sering mengalami riwayat alergi.
Manifestasi klinis demam
tifoid pada anak seringkali tidak khas dan
sangat bervariasi yang sesuai dengan patogenesis
demam tifoid. Spektrum klinis demam tifoid tidak
khas dan sangat lebar, dari asimtomatik atau
gejala saluran cerna seperti nyeri mual, muntah,
diare dan sulit BAB.Hal ini mempersulit
penegakan diagnosis berdasarkan gambaran
klinisnya saja. Perbedaan sederhan dan mudah
dilihat adalah pola kenaikkan demamnya. Pada
infeksi virus atau DBD seringkali demam mendadak
tinggi dalam 2 hari awal dan akan menurun pada
hari ke 3-5. Sedangkan sebaliknya pada demam
tifus, demam akan semakin meningkat sangat
tinggi setelah hari ke 3-5.
Campak.
Penyakit DBD sering mirip
dengan penyakit Campak karena timbulnya ruam
pada kulit. Ruam yang terjadi dapat timbul pada
saat awal panas yang berupa flushing, yaitu
berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan
dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4
sakit berupa bercak-bercak merah kecil seperti
bercak pada penyakit campak. Perbedaan khas yang
terjadi, pada DBD biasanya ruang akan berkurang
saat hari ke 4 dan ke 5 dan akan menghilang
setelah hari ke 6. Sedangkan pada campak, ruam
timbul hari ke 3 setelah itu semakin banyak
setelah hari ke 6-7 warna merah berubah menjadi
kehitaman hingga seminggu.
Demam Cikungunya
DBD seringkali mirip dengan
infeksi virus yang lain seperti Demam Cikungunya
(DC). Perbedaannya,pada DC beberpa anggota
keluarga dapat terseng dengan gejala yang mirip.
Manifestasi DC adalah demam mendadak, masa demam
leih pendek, suhu lebih tinggi, hampir selalu
disertai ruam,mata kemerahan dan nyeri sendi.
Usus Buntu
Terdapat sebuah kasus yang
tragis dan memilukan yaitu seorang anak
dilakukan operasi usus buntu (apendiktomi).
Ternyata penderita tidak mengalami infeksi usus
buntu (apendicitis akut) tetapi mengalami DBD.
Penderita akhirnya meninggal karena penyakit
DBDnya. Ternyata anak yang mempunyai riwayat
sering nyeri perut dalam keadaan sehat, saat
mengalami infeksi virus atau DBD timbul gejala
nyeri perut yang sangat berat yang sangat mirip
keluhan infeksi usus buntu.
Kelainan darah
Perdarahan pada penyakit DBD
seringkali mirip dengan penyakit lain sseperti
infeksi meningitis, sepsis atau kelainan darah
ITP (Idiopatic Trombocytopenic Purpura (ITP),
leukimia dan anemia aplastik. Meskipun beberapa
penyekit tersebut relatif sangat jarang terjadi.
MEMASTIKAN DBD
Berbagai pengalaman dan
manifestasi klinis penyakit yang menyerupai DBD
tersebut menjadi pelajaran terbaik bagi para
klinisi dan masyarakat. Kecermatan dan
ketelitian sangat diperlukan dalam mencurigai
penyakit yang mirip DBD.
Manifestasi klinis
yang khas pada DBD adalah memperhatikan secara
cermat pola demamnya. Pola demam DBD saat hari
pertama dan kedua demam sangat tinggi, hari
ketiga turun disusul hari ke 4-5 demam naik
tetapi tidak setinggi.awal demam. Gejala lain
yang khas adalah saat hari ke 3-5 penderita
tampak lemas, loyo, digendong terus, tidak mau
bermain atau berbaring dan tidur sepanjang hari.
Hal paling penting untuk
membedakannya adalah adanya pemeriksaan darah
yang menunjukkan trombosit menurun (trombositopenia)
dan hematokrit (PCV/HCT) yang meningkat (hemokonsentrasi).
Tetapi repotnya, perubahan hasil laboratorium
tersebut hanya terjadi setelah hari ketiga fase
demam. Sebaiknya dalam pemeriksaan darah
dilakukan saat hari ke 3, pada hari pertama dan
kedua hasil normal tidak menyingkirkan adanya
DBD. Pemeriksaan widal (untuk mendiagnosis tifus)
sebaiknya dilakukan saat awal minggu kedua. Saat
demam minggu pertama bila curiga demam tifus
dapat digunakan IgM Tifoid. Meskipun spesifitas
dan sensitifitas pemeriksaan ini juga belumlah
terlalu baik.
Overdiagnosis DBD atau
overestimate DBD mungkin lebih baik saat terjadi
kenaikkan angka kejadian DBD seperti musim
penghujan ini. Karena keterlambatan diagnosis
DBD akan lebih menyulitkan penanganan dan dapat
meningkatkan angka kematian yang lebih tinggi.